Leave a comment

Sahabat

Sahabat itu apa sih?

Kata Rasulullah sahabat itu ibarat cermin yang tidak hanya memberitahu kebaikan kita saja, tapi juga keburukan kita. Maksudnya, saat kita berbuat salah atau hilaf, ia siap dengan konsekwensinya – mungkin kita bakal marah, tersinggung, de es be – menasihati kita dengan tulus, dengan tujuan mulianya demi kebaikan kita, agar kita memperbaiki kesalahan kita itu.

Kalimat-kalimat lain menuturkan, bahwa sahabat itu ada di saat senang dan sedih kita. Ia siap meminjamkan pundaknya disaat kita butuh orang lain untuk berbagi, siap meminjamkan sebelah, bahkan sepasang telinganya untuk mendengar disaat kita butuh untuk didengar. Sahabat paling mengerti kita, saat sedih, gembira, suntuk, marah bahkan tanpa kita beritahu lewat lisan, ia dapat merasakan dengan hatinya, dapat melihat dengan panca inderanya dari gelagat dan bahasa tubuh kita.

Bahkan, sahabat tidak hanya mengenal kita, tapi juga keluarga kita-orang tua, dan saudara kandung kita- juga dimana rumah kita. Ia juga tau apa yang kita suka dan tidak kia suka, baik itu benda atau “sesuatu” (Syahrini mode on :P). Tau tanggal lahir kita, sering kasih kitakeutan kecil yang manis, dan berikan kita berbagai bentuk perhatian. Wahhhhh.. koq sepertinya serba tau, serba baik hati sekali ya. Hampir-hampir mengimbangi orang tua atau bahkan mungkin mengalahkan. Hehe..

Tapi pertanyaannya, adakah sahabat yg seperti itu? Kalau aku yg ditanya, aku kan jawab : ntah. :D, karena sampai sekarang aku pun belum menemukannya. (loh).

Begitulah, sahabat itu sering terngiang2 di hatiku. Bukan lagi di kepala. Rindu rasanya menantikan kehadirannya. Kapan ia datang menghampiri kehidupanku. Beberapa kali, orang-orang yg kerap kali membersamaiku melalui hari dengan berbagai aktivitas, sempat berfikir menjadikannya “kandidat” sebagai sahabat. Ketika diseleksi lolos dari bakal calon menjadi calon, dan akan dilakukan aklamasi (halah.. keq pemilu aja :P), eh.. dia gugur, ada juga yg mundur teratur, ada yg mengabur, dan hatiku pun hancur lebur..

Entah apa sebabnya bisa begitu. Selalu saja seperti itu. Dari zaman SMA sampai sekarang kalau difikir-fikir, aku hanya memiliki sedikit teman. Hanya teman, itu pun sedikit. Kasihan sekali.. Ya, menyedihkan. Apa yg salah pada diriku, aku pun tak tahu. Apa aku yg terlalu berharap begitu besar, standar kriteriaku yg terlalu tinggi, atau aku yg ternyata tidak pernah memperlakukan orang lain sebagaimana aku menginginkan orang lain memperlakukanku, atau aku yang memang tidak pandai bersosialisasi dan menjaga hubungan baik dengan teman-temanku. Hmmm.. entahlah… Sampai akhirnya, karna lelah, hatiku merasa, apa sebaiknya tidak usah punya sahabat saja ya. Berhubungan baik saja dengan semua orang, tapi tak akan pernah lagi menjadikan siapapun spesial di hatiku. Hanya Allah dan Mama-Papa saja tempat kucurahkan hati, kasih sayang, perhatian, kegembiraan maupun kesedihanku, tempatku berbagi, bercerita, dan doa taliful qulub itu, setulus hati hanya untuk Mama-Papa. Karena, sakit rasanya bertepuk sebelah tangan. Bukan hanya kepada lawan jenis saja, tapi untuk sesorang yg ingin kita jadikan sahabat, tp ternyata “berkhianat”. Pedih.. Ingin marah tak bisa, rapuh seketika hati ini hancur berkeping-keping. Itu bukan hanya ada di cerita-cerita atau di lirik lagu  saja. Tapi, aku sudah merasakannya.

Hanya Allah yg tau…

 

1 Comment

Halo dunia!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.